Ada Sinyal Kuat Rupiah Bakal Tembus Rp 14.300/US$

Ada Sinyal Kuat Rupiah Bakal Tembus Rp 14.300/US$ Rupiah tidak hanya berhasil mempertahankan kekuatannya terhadap dolar AS hingga pertengahan Selasa (31 Agustus 2021), tetapi juga jatuh di bawah rupiah/US$14.300. Tekanan terhadap dolar AS belum mereda pasca simposium Jackson Hole pada Jumat, dan rupiah terus menguat.

Ada Sinyal Kuat Rupiah Bakal Tembus Rp 14.300/US$

Vanevdebakim – Saat informasi Refinitiv dirilis, rupiah menguat 0,26% menjadi Rp 14.330 di awal transaksi. Setelah itu, apresiasi rupiah meningkat 0,33% menjadi Rp 14.320/dolar AS.

Penguatan rupiah sempat tergerus menjadi 14.341 rupiah/dolar AS sebelum kembali meledak dari 0,44% menjadi 14.305 rupiah/US$. Hingga pukul 12.00 WIB, rupiah berada di level 14.310 rupiah/dolar AS, naik 0,4%.

Baca Juga : Saran Ekonomi Agar Terhindar dari Middle Income Trap

Peluang rupiah untuk menembus Rp14.300/USD di sisa perdagangan hari ini sangat besar mengingat pergerakan sepanjang minggu di pasar non-deliverable forward (NDF) yang sudah berada di bawah level tersebut.

NDF adalah sarana perdagangan mata uang pada kurs acuan tertentu dalam jangka waktu tertentu. Sebelumnya, pasar NDF tidak ada di Indonesia dan cuma ada di pusat-pusat keuangan internasional layaknya Singapura, Hong Kong, New York dan London.

Pasar NDF kerap merubah psikologi pembentukan harga di pasar spot. Oleh gara-gara itu, pasar spot kerap ikuti nilai ubah NDF.

Tekanan terhadap dolar AS terjadi setelah Ketua Bank Sentral AS (FRB) Jerome Powell menyatakan sudah tepat untuk mengurangi atau mengurangi nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE). ini. Namun terhadap pertemuan Jackson Hall, Powell juga memastikan bahwa tapering tidak tersedia hubungannya bersama suku bunga.

Baca Juga : Rumah Dua Lantai di Bawah Rp1 Miliar jadi Buruan Kaum Milenial

Ini tidak berarti bahwa suku bunga akan dinaikkan setelah taper selesai. Akibatnya, indeks dolar AS turun 0,4% Jumat lalu dan turun 0,87% selama seminggu. Indeks yang mengukur apresiasi dolar AS itu terus melemah, tidak setebal 0,04% pada perdagangan Senin.

Dolar AS saat ini sedang menunggu rilis data tenaga kerja yang menjadi acuan The Fed dalam mengambil keputusan kebijakan moneter.

“Data ketenagakerjaan AS dapat menjadi pantauan berikutnya di dalam menilai barangkali penurunan bertahap The Fed. Data ketenagakerjaan yang baik akan diteliti lebih lanjut oleh The Fed pada September,” kata ahli trik Yukio Ishizuki. Ini akan memberikan dan mendorong harapan untuk pengumuman resmi pada bulan November. Menurut laporan Reuters, di Daiwa Securities.

Related Posts