Nilai Transaksi 51 Perusahaan IPO Masih Harus Ditingkatkan Menko Airlangga

Nilai Transaksi 51 Perusahaan IPO Masih Harus Ditingkatkan Menko Airlangga – Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjelaskan nilai transaksi Initial Public Offering (IPO) berasal dari 51 perusahaan yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih belum maksimal. Sebab, berasal dari 51 perusahaan itu cuma bisa mencatat sebanyak Rp5,28 triliun.

“Tantangan pasti nilai IPO-nya yang Rp5,28 triliun yang masih wajib ditingkatkan,” kata dia di dalam penutupan Perdagangan BEI 2020, di Jakarta,Bandar Bola

Meski begitu, dirinya mengaku optimis bersama dengan kinerja bursa saham di Tanah Air. Mengingat berasal dari faktor kuantitas Indonesia masih duduki peringkat pertama bersama dengan kuantitas IPO terbanyak dibandingkan bersama dengan negara-negara ASEAN.

“Namun ini memberikan optimisme, IPO kita sebanyak 48 emiten baru 53 dan tercatat 51 berasal dari faktor kuantitas yang tinggi di kawasan ASEAN,” imbuh dia.

Di sisi lain, nilai transaksi investor ritel juga dianggap cukup memberikan performa terbaik. Di mana, investor ritel meningkat atau naik hingga empat kali lipat di sedang keadaan yang tidak pasti akibat pandemi Covid-19.

“Ini capaian yang luar biasa di sedang keadaan pandemi keyakinan ritel terhadap pasar modal luar biasa,” jelas dia.

“Ini merupakan modal kita untuk pengembangan pasar kedepan,” sambung dia.

51 Perusahaan Telah IPO

Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sebanyak 51 perusahaan telah melakukan Initial Public Offering (IPO) dan mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga per 30 Desember 2020. Adapun hingga bersama dengan waktu ini terdapat 713 perusahaan yang mencatatkan sahamnya di BEI.

Direktur Utama BEI, Inarno Djajadi mengatakan, bersama dengan torehan tersebut, maka Indonesia masih jadi bursa saham bersama dengan kuantitas IPO terbanyak kalau dibandingkan bersama dengan negara-negara ASEAN lainnya.

“Indonesia pun masih jadi bursa bersama dengan kuantitas IPO terbanyak di ASEAN,” kata dia di dalam penutupan Perdagangan BEI 2020, Rabu (30/12).

Dia menyampaikan, kegiatan perdagangan BEI terhadap tahun 2020 juga mengalami peningkatan yang tercermin berasal dari kenaikan kebanyakan frekuensi perdagangan yang tumbuh 32 persen jadi 619 ribu kali per hari di bulan November 2020 dan menjadikan likuiditas perdagangan saham BEI lebih tinggi di antara Bursa-bursa lainnya di kawasan Asia Tenggara.

“Pada periode yang sama, kebanyakan Nilai Transaksi Harian (RNTH) berangsur-angsur pulih dan meraih nilai Rp9,18 triliun,” kata dia.

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *