Tips Atur Keuangan Jika PPKM Darurat Diperpanjang

Tips Atur Keuangan Jika PPKM Darurat Diperpanjang –  Jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia masih mencatat rekor setiap harinya. Dari lonjakan awal menjadi puluhan ribu, jumlahnya kini mencapai 56.000 kasus dalam satu hari.

Tips Atur Keuangan Jika PPKM Darurat Diperpanjang

vanevdebakim – Padahal, sejak 3 hingga 20 Juli 2021, pemerintah memperketat mobilitas masyarakat dengan Arahan PPKM Darurat di Jawa-Bali. Bahkan, beberapa daerah di luar Jawa Bali kini sudah menerapkan PPKM darurat.

Kondisi ini memunculkan wacana publik tentang perluasan PPKM darurat. Skenario yang bocor memperkirakan PPKM darurat harus selesai dalam waktu sekitar empat hingga enam minggu, bukan hanya dua minggu.

Baca Juga : Daftar Harga PCR dan Antigen Sesuai Acuan Kemenkes

Masalahnya, jika PPKM darurat diperpanjang, sebagian besar masyarakat masih harus tinggal di rumah. Akibatnya, kondisi keuangan harus disesuaikan.

Perencana keuangan Tatadana Consulting Tejasari Assad mengatakan ada dua syarat yang harus dipahami sebelum mengelola keuangan di era darurat PPKM. Pertama, apakah Anda karyawan formal yang bisa melakukan WFH dengan gaji penuh, atau kedua, apakah Anda karyawan informal yang penghasilannya, kecuali WFH, justru berisiko?

“Untuk pekerja kantoran yang tetap bekerja, WFH itu sebenrnya bagus, tidak harus berpergian ke tempat kerja, penghasilannya masih tetap , menjadi mampu lebih hemat. Tapi lain cerita kecuali ternyata pendapatannya menyusut, apalagi tidak bisa menghasilkan uang karena perusahaan tutup atau bisnis harus tutup dan tetap di rumah,” kata Teja.

Karyawan berpenghasilan penuh

Untuk kelompok ini, Teja merekomendasikan untuk menggunakan semua kebutuhan sehari-hari sehemat mungkin. Artinya, hanya memenuhi kebutuhan dasar seperti makan dan minum, kemudian kebutuhan darurat seperti obat-obatan dan vitamin untuk memenuhi kebutuhan tambahan.

Namun harus diingat bahwa membeli kebutuhan tambahan tidaklah berlebihan. Ketika kondisi berikutnya terpenuhi, hitung sisa pendapatannya.

“Perhitungkan pengeluaran yang bisa dihemat atau tidak, seperti transportasi atau makan,” kata Teja.

Baca Juga : Harga Saham BRI (BBRI) Bakal Menuju Rp4.350?

Jika hasil perhitungan ternyata terlalu banyak karena kehidupan rumah tangga cenderung lebih hemat, maka simpanlah kelebihan dana tersebut di dana darurat dan rekening tabungan. Alhamdulilah kalau ada yang bisa di share untuk item investasi tambahan.

“Dana darurat ini terlebih mesti diisi jika terjadi surplus sebab kita tidak mengetahui sampai kapan keadaan darurat ini akan berlangsung. Apalagi kasusnya bertambah, siapa tahu nanti ada anggota keluarga yang terkena dan harus membiayai, baru ini bisa digunakan untuk masa depan,” jelasnya.

Related Posts