UU Cipta Kerja Bakal Bawa IHSG ke Level 6.800 di 2021

 

UU Cipta Kerja Bakal Bawa IHSG ke Level 6.800 di 2021 – Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut implementasi Undang-Undang Cipta Kerja ke depan akan mengakibatkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di lever tertinggi. Bahkan, di 2021 instansi investasi di Amerika Serikat perkirakan IHSG berada di level 6.800.Bandar Bola

“Kami menunjang lebih dari satu instansi menambahkan komentar positif pada Undang-Undang Cipta Kerja. Bahkan JP Morgan memproyeksikan IHSG akan mencapai 6.800 tahun 2021,” kata dia di dalam Penutupan Perdagangan BEI 2020, di Jakarta,

Dia menambahkan, selain UU Cipta Kerja perencanaan vaksinasi di tahun depan juga akan menambah mobilitas masyarakat. Dengan begitu, secara tidak segera akan mendorong kesibukan perekonomian lainnya.

Seperti diketahui, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan 2020 bersama dengan ditutup di zona merah. Indeks saham Indonesia waktu pembukaan sempat menguat. Namun tak sanggup bertahan di zona hijau dan pada akhirnya tergelincir.

Pada penutupan perdagangan saham, Rabu (30/12/2020), IHSG melemah 57,1 poin atau 0,95 persen ke posisi 5.979,07. Sementara, indeks saham LQ45 juga melemah 1,13 persen ke posisi 934,88.

Selama perdagangan, IHSG berada di posisi tertinggi pada level 6.055,97 dan terendah 5.962,01

Investor Ritel Domestik Semakin Dominasi Transaksi Saham di 2020

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan, pandemi yang dialami Indonesia nyaris selama tahun 2020 tidak menyurutkan dorongan para pelaku industri untuk kehilangan kesempatan menggunakan peluang.

Misalnya, di sedang arus dana keluar asing di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih sanggup memperlihatkan penguatan.

“Arus dana asing yang keluar yakni Rp 47,89 Triliun di pasar saham per 29 Desember tempo hari dan Rp 86,83 Triliun di pasar SBN per 28 Desember lantas mengalami penguatan didorong oleh investor domestik, juga investor ritel,” kata Wimboh di dalam penutupan perdagangan saham Bursa Efek Indonesia (BEI) secara virtual, Rabu (30/12/2020).

Dari segi demand, ujarnya, 2020 menjadi tahun kebangkitan bagi investor ritel domestik, mengingat investor domestik lebih-lebih investor ritel yang semakin mendominasi transaksi saham.

Selain itu, pasar modal nasional juga tercatat semakin likuid dan dalam, tercermin dari naiknya rata-rata frekuensi perdagangan menjadi yang tertinggi di ASEAN dan juga kenaikan kuantitas investor pasar modal dan kuatnya investor domestik.

“Kenaikan kuantitas investor pasar modal menjadi 3,87 juta investor atau naik 56 persen dibandingkan tahun lantas dan semakin solidnya dominasi investor ritel,” ujarnya.

Di segi supply, antusiasme korporasi untuk menggalang dana melalui penawaranumum ternyata masih terjaga di era pandemi, dimana terkandung 53 emiten baru selama 2020.

“Dari kuantitas berikut 51 perusahaan sudah tercatat di bursa dan hal ini menjadi yang tertinggi di ASEAN,” tuturnya.

“Sementara total penghimpunan dana melalui penawaran lazim di tahun 2020 sudah mencapai Rp 118,7 Triliun,” tandasnya.

Wimboh bilang, OJK bersama dengan bersama dengan Pemerintah, Bank Indonesia dan LPS akan tetap berupaya untuk menyiapkan bermacam kebijakan dan inisiatif yang dibutuhkan untuk memelihara stabilitas sistem keuangan dan mempercepat pemulihan ekonomi nasional.

“Besar harapan kami, capaian yang baik di tahun ini menjadi katalis positif bagi kinerja pasar modal di tahun depan dan berkontribusi untuk bangkitnya perekonomian Indonesia,” tandasnya.

Infografis Rupiah dan Bursa Saham Bergulat Melawan Corona

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *